Jumat, 05 November 2010

Nilai-Nilai Estetis Dalam Puisi Kontemporer

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Puisi merupakan bentuk karya sastra yang tergolong paling tua. Namun, sampai sekarang tidak ada definisi yang mutlak mengenai puisi. Sejak kelahirannya, puisi memang sudah menunjukkan ciri khas seperti yang kita kenal sekarang. Meskipun puisi telah mengalami perkembangan dan perubahan tahun demi tahun, bentuk karya sastra ini memang dikonsep oleh pencipta atau penyairnya sebagai puisi dan bukan bentuk prosa yang kemudian dipuisikan. Namun secara garis besar puisi adalah karya sastra yang memiliki unsur-unsur keindahan (estetis).
Dalam sejarah perkembangan puisi, dikenal jenis puisi kontemporer. Sastra kontemporer adalah karya sastra yang muncul sekitar tahun 70-an, bersifat eksperimental, memiliki sifat-sifat yang “menyimpang” dari konvensi-konvensi sastra yang berlaku biasa atau umum. Sastra kontemporer muncul sebagai reaksi terhadap sastra konvensional yang sudah beku dan tidak kreatif lagi. Hal inilah yang membut pusi kontemporer menarik untuk dikaji lebih lanjut.
Karya sastra adalah fenomena yang berbunga-bunga sehingga peneliti diharapkan dapat meneliti dan mengungkap keindahan didalamnya. Keindahan adalah ciptaan pengarang dengan seperangkat bahasa. Melalui eksplorasi bahasa yang khas, pengarang akan menampilkan aspek keindahan yang optimal. Untuk mengkaji keindahan karya sastra pendekatan yang paling tepat adalah pendekatan estetika.

B. Tujuan Hasil Penulisan Apresiasi
Penulisan hasil analisis puisi kontenporer dengan pendekatan estetis ini bertujuan untuk
1. Menyajikan unsur-unsur keindahan bentuk dan makna karya sastra.
2. Menyajikan konsep keindahan puisi kontemporer dari aspek literer
yang membentuk sutu keindahan yang utuh.


C. Pengertian Pendekatan dan Prosedur Kerja Apresiasi
Secara sepintas estetik itu sekedar mengungkap masalah unsur pembentuk seni sastra saja. Padahal, penelitian ini juga merupakan bagian dari strukturalisme murni (Endarwarsa, 2006:69). Hanya saja, jika penelitian struktualisme murni menekankan aspek hubungan antar unsur, penelitian estetik tidak demikian. Penelitian lebih difokuskan pada aspek yang menyebabkan karya sastra menjadi indah dan menarik.
Para ahli sastra mengungkapkan berbagai pengertian mengenai pendekatan estetik sebagai berikut. Menurut Endraswara (2003:69) kajian estetik hanya memfokuskan pada aspek yang menyebabkan karya sastra menjadi indah dan menarik. Menurut Wellek & Warren (Budianta: 1995) pendekatan estetik adalah kajian sastra yang memfokuskan bidang kajiannya pada unsur intrinsik yang menarik dan menyenangkan. Asumsinya bahwa karya sastra dipandang sebagai karya seni yang memiliki unsur keindahan.
Dari beberapa pengertian pendekatan Esstetik di atas dapat disimpulkan bahwa pendekatan estetik adalah pendekatan yang mengkaji unsur-unsur intrinsik karya sastra yang menyebabkan keindahan dan menarik. Keindahan (estetik) dalam karya sastra begitu penting keberadaannya, kerena pada hakikatnya karya sastra merupakan karya imajinatif yang menggunakan bahasa sebagai media dan memiliki nilai estetik yang dominan.
Estetika karya sastra dapat kita lihat dari struktur bahasa yang digunakan seperti bentuknya, penyusunan alur, konflik-konflik, humor, dan sebagainya. Sama seperti yang dikemukakan oleh Shanon Ahmad, di dalam puisi terdapat pemikiran, ide, emosi, bentuk, dan kesan. Dimungkinkan bahwa melalui unsur-unsur tersebut sebuah karya sastra dapat diidentifikasi konsep estetisnya.
Dalam menganalisis puisi kontemporer apresiator memanfaatkan bantuan stilistika yaitu ilmu tentang gaya (Ratna, 2009: 3).
Adapun prosedur kerja apresiasi yang perlu dilakukan adalah
1. Mengidentifikasi unsur-unsur yang memiliki keindahan literer yang membentuk satu keutuhan (unity).
2. Mengidentifikasi unsur-unsur yang secara merata tergarap dengan baik).
3. Mengidentifikasi unsur-unsur yang membentuk keselarasan (harmony)
4. Mengidentifikasi unsur yang mendapat tekanan yang tepat (right emphasis)
D. Karakteristik Puisi Kontemporer
Puisi sebagai bagian dari sastra sering mengalami perkembangan, dari segi bentuk dan nafasnya. Dalam zaman sastra lama Indonesia kita mengenal bentuk-bentuk seperti mantra, bidal, pantun, dan syair yang kemudian muncul bentuk-bentuk puisi baru pada tahun 1930-an, misalnya saja soneta, kwatren, terzina, stanza,dan sebagainya(Waluyo, 1987:17). Pada tahun 1945an, Chairil Anwar sebagai penyair garda depan saat itu memproklamasikan bentuk puisi yang lebih baru yang sering kita kenal dengan bentuk puisi bebas (Waluyo, 1987:18)
Lalu pada tahun 1973 kita dikagetkan dengan munculnya puisi-puisi dengan bentuknya yang aneh dan ganjil menurut ukuran Indonesia ykni puisi kontenporer. Puisi Kontemporer adalah bentuk puisi yang berusaha lari dari ikatan konvensional puisi iti sendiri (Waluyo, 1987:19).
Puisi kontenporer terbagi atas bebrapa jenis seperti puisi puisi konkret, puisi mbeling, dan puisi mantra. Puisi konkret Puisi konkret (poems for the eye) diartikan sebagai puisi yang bersifat visual, yang dapat dihayati keindahannya dari sudut penglihatan (Kennedy dalam Waluyo, 1995:138). Jenis puisi ini mulai dipopulerkan sejak tahun 1970-an oleh Sutardji Calzoum Bachri.
Pusi mantra menganggap arti kata itu menindas kebebasan kata-kata dengan memberinya beban makna bisa berasal dari dalam bahasa, seperti semantik atau sintaksis, tetapi dapat pula berasal dari lingkungan luar bahasa, seperti konvensi sosial, kekuasaan politik, atau norma-norma moral.
Mengikuti Sutardji, pemaknaan kata-kata adalah sebuah bentuk penindasan dan kolonisasi, dan dalam hubungan itu puisi dapat berperan sebagai kekuatan pembebas, yang membuat kata-kata kembali merdeka dari penjajahan makna. Proposisi-proposisi tentang pemikirannya ini kemudian dirumuskannya dalam sebuah manifesto yang dikenal sebagai Kredo Puisi.
Kredo puisi sebenarnya mengandung beberapa ketidak jelasan. Bagaimanapun juga kata adalah alat, yang pada dasarnya digunakan oleh penyair dalam hal ini Sutadji, untuk menyampaikan pokok-pokok pikirannya. Kata tanpa pengertian jelas tidak mungkin. Jikalau kata itu masih punya makna leksikal. Sehingga secara otomatis jika kata sedah dianggap tidak mempunyai pengertian lagi maka ia skehilanggan cirinya sebagi suatu bahasa. Melainkan hanya bunyi saja (Teeuw, 1983: 148). Sajak seperti itu lebih tepat dikatakan mendekati pengertian musik, seni musik, dari pada puisi. Aspek distingtif sebagai bahasa hilang dan dalam praktek ternyata puisi seperti itu. Sajak sajak itu bersifat vokalis saja.
Puisi mbeling adalah puisi yang berisi kelakar, ejekan, kritik. Puisi mbeling adalah bagian dari gerakan mbeling yang dicetuskan oleh Remy Sylado, suatu gerakan yang dimaksudkan untuk mendobrak sikap rezim Orde Baru yang dianggap feodal dan munafik (Silado, 2004: 2). Puisi mbeling hendak mendobrak pandangan estetika yang menyatakan bahwa bahasa puisi harus diatur dan dipilih-pilih sesuai stilistika yang baku. Pandangan ini, menurut gerakan puisi mbeling, hanya akan menyebabkan kaum muda takut berkreasi secara bebas. Sehingga dalam puisi mbeling diatas bahkan tidak terlalu dipusingkan dengan pengunaan bunyi, irama, asonansi, aliterasi, diksi dan gaya.
Pengarang Sutardji mulai tidak mempercayai kekuatan kata tetapi dia mulai berpaling pada eksistensi bunyi dan kekuatannya. Danarto justru memulai dengan kekuatan garis dalam menciptakan puisi. Puisi kontemporer memang cenderung berbentuk aneh dan ganjil. Di samping Sutardji dan Danarto, juga Sapardi Djoko Damono, penyair lain mencanangkan bentuk puisi ganjil adalah Ibrahim Sattah, Hamid Jabar, Husni Jamaluddin, Noorca Marendra, dan sebagainya.
Lebih jauh boleh dikatakan bahwa puisi kontemporer seringkali memakai kata-kata yang kurang memperhatikan santun bahasa, memakai kata-kata makian kasar, ejekan, dan lain-lain. Pemakaian kata-kata simbolik atau lambang intuisi, gaya bahasa, irama, dan sebagainya dianggapnya tidak begitu penting lagi.
Puisi kontemporer digolongkan ke dalam periode 70-an. Tema yang sering diangkat dalam decade ini dantaraya tema protes yang ditujukan kepada kepincangan sosial dan dampak negatif dari industrialisasi, tema humanisme yang mengemukakan kesadaran bahwa manusia adalah subjek pembangunan dan bukan objek pembangunan.
Tak lupa juga tema religious yang cenderng mistik, tema yang dilukiskan melalui alegori dan parable, tema tentang perjuangan menegakkan hak-hak azasi manusia berupa perjuangan untuk kebebasan, persamaan hak, pemerataan, dan bebas dari cengkeraman dari teknologi modern.Tema kritik sosial terhadap tindakan sewenang-wenang dari mereka yang menyelewengkan kekuasaan dan jabatan.
Adapun Ciri-ciri puisi dekade 70an yaitu Puisi bergaya mantra dengan sarana kepuitisan berupa pengulangan kata, frasa, atau kalimat. Gaya bahasa paralelisme dikombinasi dengan gaya bahasa hiperbola dan enumerasi dipergunakan penyair untuk memperoleh efek pengucapan maksimal. Tipografi puisi dieksploitasi secara sugestif dan kata-kata nonsens dipergunakan dan diberi makna baru.
Untuk mengapresiasi puisi diatas, terlebih dahulu kita harus mengerti konsep tentang stilistika. Sebelum ada istilah stilistika bahasa sudah terlebih dahulu memiliki gaya. Gaya bahasa akhirnya punya kekhasan dan menyimpan autonomaly of the estetik (Endrawarsa, 2006:71). Gaya bahasa sastra yang kuat menarik untuk diteliti khususnya dari aspek stilistika. Analisis stilistika mengkaji puncak kehebatan penulis menggunakan gaya bahasa sastra. Gaya bahasa sastra berbeda dari gaya bahasa yang digunakan setiap hari.
Kata-kata dari bahasa daerah banyak dipergunakan untuk memberi efek kedaerahan dan efek ekspresif. Asosiasi bunyi banyak digunakan untuk memeroleh makna baru. Banyak digunakan gaya penulisan prosaic. Banyak menggunakan kata-kata tabu. Banyak ditulis puisi lugu untuk mengungkapkan gagasan secara polos.

ANALISIS PUISI KONTENPORER DENGAN PENDEKATAN ESTETIS

HUSSPUSS
husspuss 1
Diamlah
Kasihani mereka
Mereka sekedar penyair
Husspuss 5
Maafkan aku
Aku bukan penyair sekedar
Aku depan
Depan yang memburu
Membebaskan kata 10
memanggilMu
pot pot pot
pot pot pot
kalau pot tak mau pot
biar pot semau pot 15
mencari pot
pot
hei Kau dengar mantraku
Kau dengar kucing memanggilMu
Izukalizu 20
Mapakazaba itasatali
tutulita
Papliko arukazuku kodega zuzuzkalibu
Tutukaliba dekodega zamzam lagotokoco
Zuzuzangga zegezegeze zege 25
Zegeze zukuzangga zegezegeze zukuzang
Ga zegezegeze zukuzangga zegrzegeze zu
Kuzangga zegezegeze aahh...!
Nama nama kalian bebas
Carilah tuhan semaumu 30


Sutardji Calzoum Bachri
Amuk

Puisi Husspuss ini, larik 20 sampai 28 terdiri dari kata yang hanya bunyi-bunyi bahasa yang tidak mempunyai pengertian. Kata-kata itu asing dalam bahasa indonesia dikaji dalam berbagai segi. Panjang kata yang terdiri dari 4-7 suku kata, Rentetan suku katanya berupa urutan konsonan dan vokal secara berurutan dengan pola vkvkvkv. Pengulangan bunyi pot dari larik 12-17 yang kurang jelas maknanya. Sehingga terdapat asonansi bunyi /o/ yang dominan di baris ke 12-17. Bunyi /o/ berkesan pokok dan kokoh. Struktur fonem yang didominasi /e/, /u/ dan/z / pada baris ke 25-28 memberikan kesan murung, lemah gemulai dan berdesis. Penggunan bunyi-bunyi seperti ini tidak lazim dalam bahasa indonesia.
Seandainya ada sajak yang terdiri dari bunyi-bunyi seperti ini saja tanpa ada kata yang punya penegertian maka akan sulit sekali untuk melakukan interpretasi. Puisi itu menarik karena keestetisannya. Segi estetis yang ditimbulkan karena keanehan yang diciptakan. Dalam keadaan tertentu unsur bunyi dapat berfungsi tanpa makna, namun hal itu hanya akan tercipta jika ada konvensi (kesepekatan) pengetahuan pada pihak pembaca jika kata yang tidak bermakna itu bisa dan harus diberi makna, hal seperti ini oleh Herman J. Waluyo disebut sebagi penyimpangan bahasa.
Penyimpangan bahasa sering menjadi ciri dari suatu periode sastra. Dalam puisi Husspuss mengalami 3 buah penyimpangan bahasa. Pertama penyimpangan leksikal yakni kata-kata yang digunakan dalam puisi menyimpang dari kata-kata yang kita pergunakan sehari-hari. Sutadji memilih kata-kata yang sesuai dengan pengucapan jiwanya dan disesuaikan dengan tuntutan estetis.
Kedua adalah penyimpangan sintaksis. Puisi tidak membentuk kalimat. Namun membentuk larik-larik. Dapat kita lihat jika sutardji sering kalap dalam menggunakan huruf kapital pada awal larik dan mengakhirinya dengan titik. Bahkan tidak ada sama sekali yang mengunakan kaidah ini dan yang terakhir penyimpangan grafologis. Dalam menulis kata-kata, kalimat, larik dan baris, penyair sengaja melakakukan penyimpangan dari kaidah bahasa yang sudah berlaku. Huruf kapital dan tanda baca tidak digunakan sebagai mana mestinya. Hal ini dilakukan oleh penyair untuk mendapatkan efek estetis. Penyimpangan sistem tulisan seperti in biasa disebut penyimpangan grafologis.(Teew, 1983:149 )
Pembebasan kata yang dimaksudkan masih memungkinkan kelonggaran penyimpanagan bahasa yang ada batasnya untuk termungkinkanya komunikasi. Walau bagaimanapun juga kemungkinan berkomunikasi dengan pembaca harus tetap dipertahankan. Untuk menghindari cap puisi gelap. Walaupun predikat puisi gelap itu bisa berbeda dari satu orang ke orang lain, sesuai dengan pengetahuan dan pengalamannya.
Dalam puisi indonesia modern mungkin sekali Sutardjilah yang paling berani menyimpang kebiasaan kode dan norma kebahasaan bahasa Indonesia. Sutardji sendiri mengatakan puisinya mantra, alat bahasa yang gaib, yang memungkinkan manusia menghubungi atau menguasai dunia yang di luar kemampuannya atau jangkauanya yang normal. Namun juga tidak berarti bahwa sajak Sutardji sama sekali keluar dari konvensi bahasa. Sebab dalam hal Husspus pun penyimpangan hanya mungkin berkat kode yang ada. Pemberontakan hanya akan ada jika ada yang “diberontaki”. Dan interpretasi penyimpangan dan pemberontakan hanya mungkin dalam relasi dan kontras dengan apa yang disimpangi.
Secara garis besar unsur keidahan yang menonol dalam pusi Husspuss ini adalah unsur diksi yang tidak lazim dan berusaha membebaskan diri dari konvensi tata bahasa yang lazim digunakan. Namun marilah kita liahat bebrapa cuplikan larik puisi Husspuss dibawah!

Diamlah 2
Kasihani mereka
Mereka sekedar penyair
Husspuss
Maafkan aku
Aku bukan penyair sekedar
Aku depan
Depan yang memburu
Membebaskan kata
memanggilMu 11

Kau dengar kucing memanggilMu 19

Nama nama kalian bebas 29
Carilah tuhan semaumu 30

Larik-larik di atas bisa disebut biasa dan sederhana saja bagi orang yang interpretasinya berskala tertentu. Namun tidak dapat ditampik jika dalam puisi Husspuss juga terdapat kata-kata yang aneh. Untuk memperkaya pengetahuan kita tentang uisi mantra mari kita lihat puisi O dibawah ini.

O
dukaku dukakau dukarisau dukakalian dukangiau
resahku resahkau resahrisau resahbalau resahkalian
raguku ragukau raguguru ragutahu ragukalian
mauku maukau mautahu mausampai maukalian maukenal maugapai
siasiaku siasiakau siasia siabalau siarisau siakalian siasia
waswasku waswaskau waswaskalian waswaswaswaswaswaswaswaswaswas
duhaiku duhaikau duhairindu duhaingilu duhaikalian duhaisangsai
oku okau okosong orindu okalian obolong o risau o Kau O...


(Sutardji Calzoum Backri)

Dalam puisi O ini Sutardji memilih diksi yang yang tepat. Seperti apa yang dia katakan bahwa kata itu adalah pengertian itu sendiri tidak harus bermakna lain. Sehingga dalam puisinya ini hanya ada makna denotasi.
Dalam puisi ini kata-kata yang digunakan Sutardji adalah kata-kata yang bisa digunakan dalam bahasa sehari-hari. Tetapi ada kata yang berasal dari bahasa daerah antara yaitu bahasa Jawa, terlihat pada kata ”bolong” yang berarti berlubang.
Disisi lain hanya sedikit kata yang menimbulkan efek efoni (tehnik memindahkan bunyi) antara lain duhairindu, duhaingilu, duhaisangsai, orindu, obolong, dan orisau. Sehingga puisi tersebut tidak terlihat kemerduannya.
Walaupun banyak terdapat asonansi seperti

Dukaku dukakau dukarisau
Resahku resahkau resahrisau resahbalau
Raguku ragukau raguguru ragutahu
Mauku maukau mautahu mausampai.......maugapai
Siasiaku siasiakau.....siasiabalau siasiarisau
Waswasku waswaskau
Duhaiku duhaikau duhairindu duhai ngilu

Asonansi yang ada tersebut tetap saja menimbulkan efek kakafoni. Karena kesan bunyi indahnya seperti bunyi dalam mantra jadi terkesan biasa dan tidak merdu. Begitu juga pada iramanya paduan bunyi itu hanya membuat irama yang datar-datar saja sehingga tak ada luapan-luapan emosi yang bisa mempengaruhi irama.
Bahasa kiasan yang ditampilkan adalah repetisi, yakni pengulangan kata guna menekankan arti pada kata itu. Seperti tekanan pada kata ”duka” yang diulang sampai lima kali terlihat kalau sang penyair sedang mengalami duka entah duka pada dirinya, pada kau atau mungkin kekasihnya, duka pada temannya ataupun duka seekor kucing.
Begitu juga penekanan pada kata resah, ragu, mau, sia-sia, waswas, duhai, dan o adalah sebuah tekanan yang memberi makna lebih pada duka, keresahan yang akhirnya menimbulkan ragu dan juga keingintahuan walaupun itu hanya sia-sia dan membuat waswas. Pengulangan kata itu merupakan penekanan juga pada artinya.
Dalam puisi O ini terdapat beberapa pencitraan antara lain, gerak, pedengaran, perasa dan penglihatan. Gerak terlihat dari kata”maugapai” karena seakan kita bergerak untuk menggapai harapan itu. Pendengaran terlihat dari kata ”dukangiau” karena kata ngiau disitu adalah suara hewan yakni kucing sebagai suatu bahan perbandingan. Indera perasa juga terasa dilibatkan dalam kata ”duhaingilu” sehingga pembaca seakan ikut merasa ngilu dengan membaca puisi tersebut. Selain itu juga ada pencitraan penglihatan pada kata ”okosong” dan ”obolong” karena kosong dan bolong itu hanya bisa diketahui dangan melihat suasana.
Semuanya merupakan pencintran yang bertujuan membawa pembaca dengan segenap inderanya sehingga bisa merasakan sakit dan kehampaan yang ada dalam puisi tersebut. Dengan melibatkan indera bisa dirasakan dengan seluruh imajinasinya apa yang ada dalam puisi tersebut.
Kata-kata yang seakan berupa mantra itu merupakan ekspresi dari doa. Penyair merasa duka, resah dan ragu yang mendalam. Perasaan inilah yang membuat penyair berkeinginan untuk mencapainya walaupun semuanya harus sia-sia.
Semuanya hanya tinggal perasaan waswas dan kehampaan. Kehampaan yang dirasakan itu dilambangkan dengan kata bolong dan kosaong yang seakan-akan seperti huruf O. Jadi sebenarnya huruf O adalah penggambaran dari perasaan hampa dan kosong sang penyair.
Selain itu kata-katanya yang seperti mantra seakan-akan menyiratkan bahwa puisi itu adalah doa. Hingga puisi itu merupakan hakikat dari Tuhan dan dosa. Tentang bagaimana manusia merasa berdosa dengan segala keresahan dan kesedihan sehingga semuanya hanya bisa dikembalikan pada Tuhan.
Sajak ini menggambarkan suasana optimis pada penyair. Suasana optimis ini berubah menjadi absurd, karena walaupun sudak merasa tidak mungkin tetapi masih ada usaha untuk mengapai semua itu. Dengan keyakinan semuanya akan bisa tercapai walaupun itu juga tak mungkin.
Sajak ini kata-katanya dikuai oleh emosi dan rasio yang tak menentu sehingga menjadi sebuah misteri. Karena semuanya seakan hanya sebuah misteri yang seakan-akan semuanya itu sulit untuk dipahami dan terlihat tidak komunikatif. Kandungan yang tak kalah kayanya dari puisi O dapat dilihat dalam puisi mantera.

MANTERA

lima percik mawar
tujuh sayap merpati
sesayat langit perih
dicabik puncak gunung
sebelas duri sepi (5)
dalam dupa rupa
tiga menyan luka
mengasapi duka

puah!
kau jadi Kau! (10)
Kasihku

Dilihat dari bentuk sajaknya, sajak ini terdiri dari dua bait yang tidak
simetris. Bait pertama terdiri dari delapan larik dan yang ke dua terdiri
dari tiga larik. Keadaan tak sebanding ini memberi kesan berat, adanya
tekanan. Sesuai dengan judul, maka interpretasi yang timbul kemudian
adalah adanya masalah, dan untuk mengembalikan pada keadaan semula,
pada harmoni, diperlukan mantra.
Dilihat dari rimanya, tidak banyak rima yang terdapat pada larik-larik
awal atau akhir seperti yang biasanya terdapat pada sajak tradisional, tetapi
persamaan bunyi vokal selarik atau asonansi banyak ditemukan. Memang,
mantra pada prinsipnya adalah permainan bunyi
Sajak yang terdiri dari duapuluh delapan kata inihanya mengandung dua verba yang salah satunya merupakan bentuk pasif (dicabik), sedangkan yang lain merupakan bentuk nomina dan adjektiva. Hal ini memberi kesan statis seperti juga dukun yang sedang mengucapkan mantra di depan kemenyannya. Meskipun demikian tak adanya tanda baca selain dua tanda seru, serta tiadanya huruf besar, menimbulkan kesan adanya suatu gerakan yang tak berhenti, bagaikan asap yang mengepul tinggi.
Sementara itu, kedua tanda seru menunjukkan fungsi ekspresif yang kuat.
Selanjutnya, sebagaimana telah dikatakan di atas, judul sajak ini adalah “Mantra”. Apabila kita perhatikan, semua kosakatayang digunakan sangat mendukung hal ini. “lima percik mawar” adalah air mawar yang biasa digunakan oleh sang dukun dalam berdoa, demikian pula “tujuh sayap merpati”. Pada umumnya yang digunakan sebagai korban adalah ayam hitam namun di sini digunakan jenis unggas lain, yaitu merpati. Ini menunjukkan bahwa Sutardji ingin menunjukkan bahwa tidak selalu hitam itu simbol keburukan. Selanjutnya frase “sesayat langit perih” menunjukkan adanya suatu kesakitan atau kesedihan yang membutuhkan mantra.
Sajak ini juga menarik dari aspek pragmatisnya, karena apabila bait pertama dikemukakan oleh pencerita, untuk menampilkan keadaan sang dukun yang sedang berdoa, maka bait kedua hanya berisi komunikasi langsung antara
dukun dengan penguasa alam semesta. Itulah sebabnya bagian ini sangat
ekspresif. Seruan “Puah” dilontarkan sang dukun pada akhir doanya,
biasanya disertai ludah yang dianggap mempunyai kekuatan gaib, kekuatan
penyembuh.. Maka “kau” yang ditampilkan dengan huruf “k” kecil, berubah
menjadi “Kau” dengan huruf “besar”, artinya si dukun telah berhasil
menyatu dengan penguasa alam semesta yang disebutnya dan dianggapnya
sebagai “Kasihku”.


SEPISAUPI
sepisau luka sepisau duri
sepikul dosa sepukau sepi
sepisau duka serisau diri
sepisau sepi sepisau nyanyi
sepisaupa sepisaupi (5)
sepisapanya sepikau sepi
sepisaupa sepisaupi
sepikul diri keranjang duri
sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi (10)
sepisaupa sepisaupi
sampai pisauNya ke dalam nyanyi
(Sutardji C. Bachri 1973)
Berangkat dari penyusunan kata, puisi ini sangatlah khas yaitu pada permainan bahasa yang digunakan. Hal tersebut dapat dilihat pada penggabungan beberapa kata sekaligus, seperti
sepi + pisau → sepisau
sepi + pikul → sepikul
sepi + pukau → sepukau
sepi + pisau + apa → sepisaupa
sepi + pisau + api → sepisaupi
Pertautan-pertautan kata tersebut menimbulkan suatu kata baru yang unik. Sehingga hal itu mengharuskan pembaca untuk keluar dari frame pemaknaan konvensional.
Luka bersanding dengan duri, dosa dengan sepi, duka dengan diri, sepi dengan nyanyi, diri dengan duri, pasangan-pasangan kata yang membuat pembaca harus merekonstruksi ulang mengenai pemaknaan kata yang telah terekam dalam memori. Lebih jauh di sinilah kekuatan Sutardji untuk mengeluarkan kata dari beban makna yang disandang selama ini. Kata-kata tersebut menghasilkan bentukan kata dan makna yang lain.
Dari segi unsur bentuk, keindahan puisi tersebut terlihat pada perualangan bunyi yang ditimbulkan dari rima.Rima puisi ini digarap sangat mengesankan oleh Sutardji, dengan menggunakan pola rima a a, yaitu di setiap akhir larik puisi ini diakhiri dengan bunyi i. Sehingga menimbulkan suasana bunyi yang merdu dan indah.
Permainan kata yang dilakukan Sutardji banyak kita dapati dalam puisi ini. Yang paling menonjol adalah pada kata sepisaupi. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, kata ini merupakan hasil dari penggabunngan beberapa kata. Kata tersebut yaitu /sepi/, /pisau/, /api/. Jika kita perhatikan setiap kata tersebut mengandung vokal i.
Selain itu puisi ini banyak menggunakan bunyi konsonan s dan p. Efek /s/ dan /p/ pada “sepisaupi” menimbulkan efek magis dan efek penggunaan fonem tersebut berpengaruh pada pengucapan puisi yang dibaca dengan cepat dan terdengar seperti mantra. Pengulangan bunyi vokal yang sama pada kata atau perkataan yang berurutan dalam baris-baris puisi menimbulkan kesan kehalusan, kelembutan, kemerduan atau keindahan bunyi. Terdapat pada kata,

Sepisaupa
Sepisaupi
Sepisapanya

Pengulangan bunyi konsonan yang sama dalam baris-baris puisi biasanya pada awal kata atau perkataan yang berurutan. Pengulangan seperti itu menimbulkan kesan keindahan bunyi. Terdapat pada kata,

sepisaupa
sepisapanya
nyanyi

Unsur Nada dan Suasana puisi yang terlukiskan pada puisi tersebut adalah suasana magis. Efek magis ditimbulkan Sutardji melalui pengulangan kata serta pengobrak-abrikan kata dalam puisi sepisaupi ini. Kata sepisaupi jika didengarkan seperti mantra. Hal itu dikarenakan penggabungan kata-kata sepi dan pisau jika dibaca tanpa putus kita akan dapat menangkap makna dari sepi dan pisau itu. Efek /s/ dan /p/ pada “sepisaupi” menimbulkan efek magis, dan efek penggunaan fonem tersebut berpengaruh pada pengucapan puisi yang dibaca dengan cepat dan terdengar seperti mantra.
Efek magis yang murni pada puisi tersebut juga dapat kita lihat dari pengulangan-pengulangan (repetisi) seperti pada mantra. Sepisau, sepisaupa, sepisaupi, begitu banyak diulang-ulang dalam puisi ini. Bila diperhatikan lebih lanjut, efek yang diperoleh dari perulangan kata-kata yang tidak jelas artinya ini seakan-akan menunjukkan sesuatu yang gaib.
Dalam puisi, untuk memberi gambaran yang jelas, untuk menimbulkan suasana yang khusus, untuk membuat (lebih) hidup gambaran dalam pikiran dan penginderaan serta untuk menarik perhatian, penyair juga menggunakan gambaran-gambaran angan (pikiran). Hal tersebut juga dapat dilihat dari bait kedua yang isinya tak jauh beda, yaitu menceritakan tentang sebuah penderitaan “sepikul diri keranjang duri”. Larik tersebut mengandung majas hiperbola, yang digunakan untuk memperkuat makna penderitaan yang luar biasa.
Unsur dominan yang mampu menunjukan konsep estetis dalam puisi “Sepisaupi” adalah bunyi. Secara estetis puisi ini memiliki bentuk puisi yang sedikit beda, tidak ada kateraruran yang ada dalam bentuknyata dapat dikatakan berbentuk bebas.
Meskipun pengarang banyak menggunakan kata-kata yang tabu , tetapi hal itu tidak mengurangi nilai keindahannya. Malah mebuat puisi ini semakin menarik dan memiliki kesan yang berbeda.
Jadi nilai estetis yang terdapat pada puisi Sepisaupi karya Sutardji ini dilihat dari segi karakteristik bahasanya, meliputi diksi, bunyi, dan sarana retorika (repetisi), sedangkan dari segi karakteristik bentuknya, meliputi rima dan bentuknya yang bebas.
Selanjutnya adalah puisi konkret. Contoh puisi konkret adalah puisi legendaris “Tragedi Winka Sihka”

TRAGEDI WINKA & SIHKA

kawin
kawin
kawin
kawin
ka
wi
ka
win
ka
win
ka
win
ka
winka
winka
winka
sihka
sihka
sihka
sih
ka
sih
ka
sih
sih
ka
sih
ka
sih
sih
sih
sih
sih
sih
ka
Ku

Puisi karya Sutardji Calzoum Bachri ini termasuk salah satu puisi kontemporer. Pada periode ini, puisi yang diciptakan memiliki banyak kesamaan, misalnya bentuk yang tidak beraturan yakni bebas sesuai dengan selera sang penyair. Bila dalam puisi sebelumnya (Chairil Anwar) sangat menempatkan makna dan isi puisi menjadi hal terpenting, tidak dengan Sutardji, ia ingin menempatkan bentuk puisi (fisiknya). Ia ingin menempatkan puisi yang sama dengan mantra, dengan adanya pengulangan kata, frasa, dan bunyi. Di samping itu, ia juga mengutamakan bentuk fisik berupa tulisan-tulisan yang mengandung maksud tertentu seperti yang tercermin pada syair di atas.
Kata inti dari syair tragedi sihka winka adalah kata kasih dan kata kawin. Tema syair ini adalah perjalanan hidup yang sengsara dengan banyak marabahaya. Ekspresi yang terkandung di dalamnya adalah makna nonsense dan tipografi yang penuh makna.
Kata kawin, kasih, winka, sihka, ka – win, dan ka – sih adalah tanda-tanda bermakna. Logika tanda itu sebagai berikut: bila kata itu utuh, sempurna seperti aslinya, maka arti dan maknanya sempurna. Bila kata-kata dibalik, maka maknanya-pun terbalik, berlawanan dengan arti kata aslinya. Dalam kata “kawin” terkandung konotasi kebahagiaan, sedangkan “winka” itu mengandung makna kesengsaraan. “Kawin” adalah persatuan, sebaliknya “winka” adalah perceraian. “Kasih” itu berarti cinta, sedangkan “sihka” kebencian. Bila “kawin” dan “kasih” menjadi “winka” dan “sihka” itu adalah tragedi kehidupan. Targedi mulai terjadi ketika “kawin” dan “kasih” tidak bisa dipertahankan dan terpecah menjadi sih – sih, kata tak bermakna, yang menunjukkan hidup menjadi sia-sia belaka.
Sedangkan penulisan puisi tragedi winka sihka yang disusun secara zig zag ini membuat bentuk puisi ini berbeda dengan yang lain. Justru bentuk yang berbeda dengan yang lain ini yang membawa nilai estetik tersendiri, karena penyair mempunyai makna tersendiri dengan susunan bentuk yang ia ciptakan, yakni sebuah tanda yang merupakan suatu lambang keliku-likuan suatu perjalanan yang penuh dengan bahaya. Dengan kata lain, bentuk larik dan kata dalam puisi tersebut membentuk makna yang tersembunyi. Hanya penyairlah yang tahu maksudnya. Sebagai pembaca, kita dapat memaknai kata-kata yang tertulis dalam larik-larik puisi itu.















Q

! !
! ! !
! !! ! ! !
!

! a (5)
Lif ! !
l
l a
l a m
! ! (10)


mmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmm
iiiiiiiiiiiii
mmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmm
(Suradji c. Bachri)

Puisi di atas bila disingkat menjadi "Q : alif lam mim". Hal itu jelas meunjukkan puisi ini mengutip salah satu ayat dalam Al Quran. Beberapa ayat dalam Al Quran yang berupa huruf-huruh hijaiyah tanpa harakat, misalnya : tho ha, lam mim shod, dan lain-lain.
Tipografi puisi sebagaimana tertulis di atas sebagaimana pembacaan kalau qiraah. Ayat ini terpampang jelas pada Al Baqarah ayat pertama. Keunikan bentuk pada puisi ini memiliki daya tarik tersendiri.
Lif
l
l a
l a
Bentuk tersebut seperti sebuah selurutan, yakni I dan a yang semakin menurun. Jika kita maknai, dalam kehidupan kita tidak selalu berada diatas namun bias jatuh juga.
! a
Lif
l
l a
l a
Jika kita amati lagi bentuk ini seperti sebuah jalan yang bercabang, hal itu bias dimaknai bahwa dalam hidup seringkali kita dihadapkan pada beberapa pilihan, maka kita harus bisa menentukan pilihan yang terbaik dalam hidup kita.
! a
Lif ! !
l
l a
l a m
! !
Bentuk tersebut seperti orang yang sedang bersujud, hal itu menunjukkan bahwa makhluk hidup senantiasa bersujud pada Tuhan.
mmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmm
iiiiiiiiiiiii
mmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmm
Bunyi panjang saat melafalkan harokat mim pada saat membaca alif lam mim, digambarkan penyair dengan menggunakan rentetan-rentetan bunyi tersebut. Dan bentuk dari rentetan bunyi tersebut melambangkan panjang usia manusia dan usia manusia hidup di dunia tidaklah sama
Dalam puisi tersebut terdapat huruf m sebanyak 28 kali (jumlah huruf hijaiyah), i sebanyak 13 kali (sifat wajib Allah), m sebanyak 33 kali (zikir dalam sholat). Huruf M yang berjumlah 28 tersebut melambangkan tingkat iman manusia mula-mula. Huruf i sebanyak 13 melambangkan ujian keimanan oleh Allah SWT dan m sebanyak 33 melambangkan tingkat iman manusia seusai mendapatkan ujian.
Puisi Q ini menunjukkan bahwa Allah sengaja tidak memberitahukan maknanya secara langsung. Penyair ingin menggambarkan bahwa Allah memberikan teka-teki kepada manusia. Dalam hal ini, Allah hanya memberikan isyarat konsonan dasarnya dan kita yang memaknainya.
Letak keindahan dari puisi ini bisa kita lihat dari segi bentuknya. Melambangkan masjid dan jika dilihat dari samping terdapat lafadz Allah. Jadi pengarang menyampaikan pesan yang ingin disampaikannya melalui symbol-simbol dan bentuk.
Selanjutnya akan dibahas jenis puisi kontenporer lainya. Yakni puisi mbeling contoh puisi mmbeling dapat dilihat di bawah ini.
Sajak Sikat Gigi

Seseorang lupa menggosok giginya sebelum tidur 1
Di dalam tidur ia bermimpi
Ada sikat gigi menggosok-gosok mulutnya supaya
terbuka

Ketika ia bangun pagi hari 5
Sikat giginya tinggal sepotong
Sepotong yang hilang itu agaknya
Tersesat di dalam mimpinya dan tak bisa kembali

Dan ia berpendapat bahwa, kejadian itu terlalu
berlebih-lebihan 10

(Yudistira Adi Nugroho 1974)

Secara sekilas puisi mbeling di atas tidak berbeda dengan cerita humor yang disampaikan dengan bahasa lugas dalam kehidupan sehari-hari. Gaya penulisan prosaik begitu tertonjol. Puisi yang terdiri dari 10 baris di atas memiliki keanehan yang mencuat di baris ke 7 dan 8 yang terlebih dahulu dirangsang oleh baris 5 dan 6. Cerita seperti itu mungkin tidak akan pernah terjadi dalam kehidupan nyata. Sungguh khayal dipikirkan jika sebuah sikat gigi datang dalam mimpi seseorang karena orang itu lupa menyikat gigi sebelum tidur. Apalagi saat pagi tiba sikat gigi itu hilang sepotong karena tersesat didalam mimpi.
Namun akan terlalu dangkal jika puisi terbaik tahun 1976-1977 Dewan Kesenian Jakarta itu dimaknai sesedarhana itu. Keluguan yang disampaikan sampai pada titik nekad. Tampaknya sudah tidak memperdulikan lagi apakah yang tertulis diatas sebuah sajak atau hanya petualangan yang tidak pernah dilakukan oleh penyair-penyair yang berbobot.
Struktur batin dari puisi diatas kurang lebih dapat dimaknai sebagai suatu hal yang terkadang kecil tapi jika dilupakan akan mengakibatkan hal yang buruk. Contoh yang diangkat dalam puisi adalah sikat gigi, sepele bukan, namun jika tidak dilakukan maka ribuan kuman akan bersarang dimulut kita saat tidur malam. Begitu juga hal-hal kecil yang sering terabaikan dalam hidup, saat hal-hal kecil itu bertumpuk maka akan membuat satu kekuatan yang akan merepotkan.
Meskipun sebagian orang belum bisa menerima kehadiran puisi semacam ini dalam kesusastraan yang serius, namun tidak dapat dipungkiri jika kehadirran sajak semacam ini memberikan corak baru dalam perpuisian Indonesia. Dalam Sajak Sikat Gigi pemanfaatan potensi bahasa sebagai rangkaian bunyi-bunyi, baik menyangkut makna atau tidak, terlihat pada persajakan.

Ada sikat gigi menggosok-gosok mulutnya supaya
terbuka

Secara sekilas dapat kita lihat adanya majas personifikasi. Karena hanya manusia atau individu bernyawa yang dapat melakukan aktifitas “mengosok-gosok”. Sikat gigi bukanlah mahluk hidup maka terjadi majas personifikasi. Namun dapat jika ditelaah lebih dalam lagi puisi Sajak Sikat Gigi sama sekali tidak mengandung majas. Meskipun kegiatan mengosok-gosok hanya bisa dilakukan oleh mahluk hidup tetapi dalam mimpi tokoh yang diceritakan hal itu benar-benar terjadi. Ia berdiri untuk pengertian yang sesunguhnya. Bait terakhir yang terdiri dari dua baris merupakan kesatuan bulat yang mengikat bait-bait diatasnya. Bait itu menjadi semacam kesimpulan dari uraian diatasnya. Dalam narasi biasa disebut ending.
Sayangnya kesadaran tentang hal-hal kecil seperti ini selalu di abaikan sebagai suatu hal yang sepele dan khayal terjadi. Hal ini terlukis dalam bait terakhir sebagai ending dari puisi bergaya prosaik ini. Selain menonjol dalam hal gaya kepenulisan, ada pula puisi mbeling yang menonjol dalam hal diksi seperti dibawah ini
Puisi buat pacarku

Duhai pacarku,
Yang pesek
Sebetulnya ik enggak ngebet
Ama situ
Tapi apa daya
Babemu kaya
Nanti kita berbulan madu
Pakek corolla
Ke neraka!
(Amin Subagio, 1976)

Dari segi bahasa yang dipergunakan dalam Puisi Buat Pacarku sudah sangat jelas bahasa yang digunakan bukan bahasa Indonesia dalam ragam yang baku. Bahasa yang digunakan itu lebih dekat dengan bahasa sehari-hari. Kata-kata sehari-hari dan kata-kata yang berasal dari bahasa daerah banyak kita jumpai dari sajak itu. Yaitu pengunaan bahasa indonesia dialek Jakarta. Misalnya ik, enggak.ngebet, dan babe. Pengunaan bahasa sehari-hari seperti itu dan bahasa yang terpengaruh oleh bahasa daerah terasa lebih akrab, lebih memasyrakat, dan lebih nakal.
Sedang maknanya secar eksplisit menampar kebanyakan manusia jaman sekarang yang memilih jodoh. Harta menjadi ukuran yang pertama kali dilihat sebelum mengiyakan sebuah ikatan rumahtangga. Sedang dalam ajaran suatu agama tertentu harta menjadi pertimbangan yang kesekian. Seharusnya yang dilihat pertama kali sebelum menetukan pendamping hidup adalah perilakunya.
Orang yang berperilaku baik lebih mungkin bisa membawa sebuah rumahtangga kepintu surga. Sedangkan harta babe seperti yang dikemukakan dalam puisi diatas hanya akan membawa ke neraka. Memang juga tidak bisa langsung dipukul rata seperti demikian. Namun harta yang tidak dari kerja keras sendiri, apalagi mendapatkanya dengna cara menikahi sang putri dari empunya harta, bukankah hal seperti itu hanya mengedepanlan kepusan pribadi bukan hal yang sebenarnya dicari dalam rumahtangga.












PENUTUP
Puisi dipandang sebagai karya sastra yang memiliki unsur-unsur estetis seperti yang terdapat pada sajak Husspuss, O, Sepisaupi, Tragedi Winka Sihka, Q, Sajak Sikat Gigi, dan Puisi buat Pacarku, yang mewakili sebagian dari contoh-contoh puisi kontemporer yang pernah jaya di eranya. Selanjutnya, mengidentifikasi unsur-unsur yang turut membangun konsep estetis(keindahan) dalam pusi tersebut sehingga membentuk satu keutuhan(unity) puisi tersebut. Dalam keempat pusi tersebut diperoleh unsur-unsur yang diperkirakan mampu menciptakan dan menimbulkan nilai estetis(keindahan), antara lain: diksi, imaji, bahasa kiasan, sarana retorika yang tergabung dalam karakteristik bahasa. Selanjutnya terdapat unsur rima, perulangan bunyi yang tergabung dalam karakteristik bunyi dan makna puisi yang termasuk dalam isi sebuah puisi. Langkah ketiga ialah mengidentifikasi unsur-unsur yang secara merata tergarap dengan baik. Maksudnya menemukan unsur yang menonjol dalam pembangunan konsep estetis pada puisi kontemporer atau unsur yang mendapat tekanan yang tepat (right emphasis) ialah unsur diksi. Hal tersebut didukung oleh hasil yang didapatkan setelah melakukan pembuktian dan pada kenyataannya terdapat pada semua puisi yang ada. Unsur tersebut (diksi) mendorong unsur-unsur lainnya untuk membentuk keselarasan (harmony) dan akhirnya dapat membentuk kesatuan makna yang utuh yang dari segi makna juga mengandung nilai estetis.


Daftar Rujukan

Aminuddin. 1995. Stilistika. Semarang: IKIP Semarang Press.
Endraswara, sewardi. 2006. Metodologi penelitian sastra. Yogyakarta:Pustaka Widyatama.
Suwignyo, Heri. 2008. kritik Sastra Indonesia Modern. Malang: Asah Asih Asuh.
Tarigan, Henry G. 1971. Ptinsip-prinsip dasar puisi. Bandung: Angkasa.
Teeuw, A. 1983. Tergantung Pada Kata. Bandung: Pustaka Jaya.
Waluyo, Herman J.. 1987. Teori dan apresiasi puisi. Jakarta: Erlangga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Berkomen untuk Kemajuan