Jumat, 05 November 2010

Senyum Karyamin Dengan Pendekatan Mimetik

PEMBAHASAN


A. LATAR BELAKANG
Salah satu cerpen karya Ahmad Tohari adalah cerpen dengan judul Senyum Karyamin, agaknya judul itu sendiri dapat menyuratkan makna yang ingin diangkat dalam cerpen-cerpen di dalamnya. Senyum untuk kepahitan hidup yang sering mendera Karyamin (wakil dari orang-orang desa yang miskin, yang pinggiran, dan juga yang orang yang selalu tidak mendapat keadilan) tanpa mengetahui jalan keluar darinya, dari kepahitan itu. Senyum sebagai lambang dari usaha menerima nasib, bahkan menertawainya, karena apa boleh buat dia sendiri tidak bisa berbuat apa – apa.
Dalam cerpen “Senyum Karyamin”, seorang tukang batu bernama Karyamin terpeleset berkali – kali menumpahkan batu – batu kali yang diangkatnya. Sakit perutnya lapar tak berisi karena tak ada uang yang Ia punya untuk membeli makanan. Sementara utang menumpuk, tengkulak yang menadah batu – batu itu kabur membawa upah mengangkut batu. Belum lagi tagihan untuk sumbangan – sumbangan yang mengancam dari pamong pemerintah setempat. Ia hanya bisa tersenyum.
Dalam cerpen Senyum Karyamin ini banyak menggambarkan sisi kehidupan para warga pinggiran yang tak dipedulikan nasibnya oleh para petinggi negara yang seharusnya memakmurkan hidup mereka. Pendektan yang dipilih untuk mengapresiasi cerpen Senyum Karyamin ini adalah pendekatan Mimetik, karena bila diapresiasi dengan pendekatan mimetik karya sastra ini akan terlihat keindahannya. Ini sesuai dengan pengertian dari pendekatan mimetik itu sendiri yang mengkaitkan pada kenyataan sosial, budaya, alam, dan lingkungan hidup tersebut.
Pendekatan mimetik adalah pendekatan yang mengkaitkan karya sastra dengan kenyataan yang ditiru atau tercermin didalamnya. Dalam pendektan mimetik sebuah karya sastra dikatakan baik apabila suatu kenyataan, misalnya kenyataan sosial, budaya, alam, lingkungan hidup dan sebagainya. Serta dinyatakan dengan tepat, lengkap, atau secara unik sehingga memiliki daya pesona.
Bila seorang kritikus mengharapkan dari sastra supaya kenyataan diperjelas, maka kriteria inilah yang dipergunakan. Pendapat seperti ini pernah dikemukakan Goenawan Moehamad bahwa tugas sastrawan dan seniman pada umumnya adalah membuat penghayatan terhadap kehidupan menjadi lebih intens. Dengan kata lain karya sastra yang baik hendaknya mempunyai intensitas terhadap realitas, bukan sekedar meletakkan kembali realitas tersebut (Moehamad : 1988:53)




















B. APRESIASI CERPEN SENYUM KARYAMIN DENGAN PENDEKATAN MIMETIK
Senyum Karyamin karya Ahmad Tohari yang merupakan judul kumpulan cerpen sekaligus bagian cerpen yang dibuat tahun 1980-an. Pada bagian awal cerpen ini kita merasakan indahnya dan besarnya arti sebuah senyum. Karyamin hanya seorang kuli angkut batu yang penghasilannya tidak seberapa bahkan terkadang tidak bisa mendapatkan apapun. Karyamin tersenyum saat apapun yang menimpanya disaat senang atau pun susah walau seringkali terasa perih melanda. Senyum seorang Karyamin adalah gambaran dari sebuah keikhlasan sebagian besar negeri ini.
Karyamin sama seperti kebanyakan rakyat negeri ini yang berada dibawah garis kemiskinan. Mereka hidup dalam keadaan yang sudah susah tetapi keadaan mereka yang demikian susah itu masih ditambah susah lagi dengan program – program Pemerintah yang malah mempersulit hidup mereka.
"Ya. Kamu memang mbeling, Min. Di gerumbul ini hanya kamu yang belum berpartisipasi. Hanya kamu yang belum setor uang dana Afrika, dana untuk menolong orang orang yang kelaparan di sana. Nah, sekarang hari terakhir. Aku tak mau lebih lama kau persulit."
Karyamin yang dalam kesehariannya tidak mampu untuk memenuhi kehidupannya malah disuruh untuk membayar iuran bagi bangsa afrika yang kekurangan pangan. Ini sangat sesuai dengan apa yang terjadi di negara ini. Berdalih negara yang gemah ripah loh jinawi tetapi untuk menghidupi, memberi makan rakyatnya saja tidak mampu. Tetapi kalau ada negara lain yang membutuhkan bantuan mereka langsung bertindak, sementara nasib rakyat mereka sendiri yang miskin yang sampai berebut makanan dengan hewan tidak mereka pedulikan.
“Setelah melintasi titian Karyamin melihat sebutir buah jambu yang masak. Dia ingin memungutnya, tetapi urung karena pada buah itu terlihatjelas bekas gigitan kampret. Dilihatnya juga buah salak berceceran di tanah di sekitar pohonnya. Karyamin memungut sebuah, digigit, lalu dilemparkannya jauh jauh. Lidahnya seakan terkena air tuba oleh rasa buah salak yang masih mentah. Dan Kar¬yamin terus berjalan.”
“Dan karyamin terus berjalan” ini menggambarkan betapa Karyamin hanya menerima begitu saja keadaan hidupnya, karena mungkin dia tidak tahu harus berbuat apa, atau kalau Ia harus mengadu kepada siapa Ia tak tahu karena tidak ada yang peduli dengan nasib para orang – orang miskin seperti Karyamin. Bagaimana sosok seorang Karyamin yang merupakan orang miskin dengan penghasilan rendah bisa menjalaninya hidupnya meski dengan keadaan yang sulit, pekerjaan yang berat dan tertindas oleh orang yang kaya yang mempermainkan keadaan hidup mereka, bisa bertahan hidup adalah dengan mereka tidak pernah peduli akan masalah yang mereka hadapi. Mereka hanya menerima begitu saja keadaan hidupnya seperti apapun masalah yang menimpa mereka, mereka tidak akan mempedulikannya. Seakan – akan masalah – masalah yang ada pada mereka adalah teman hidup yang selalu menemani mereka.
Bangsa ku, bangsa mu, bangsa kita. Bangsa yang mempunyai senyum terbaik di dunia. Penduduknya dengan ramah memberikan senyum dalam keadaan apapun walau seringkali senyum itu bermakna lain dan jadilan Indonesia sebagai penduduk terramah dan mempunyai senyum terindah di dunia. Karyamin adalah gambaran bangsa ini, masyarakat Indonesia yang di ditulis berupa cerita oleh Ahmad Tohari, cerita yang sangat pilu melanda negeri ini. Layaknya karyamin dan teman-temannya yang sering mentertawakan diri sendiri disaat terperosok ke dalam kesusahan yang menimpa, dan berjuang buat orang lain. Orang lain yang sedang di derita kelaparan.
Begitulah cerpen ini yang menggambarkan negeri ini dengan sosok Karyamin. Cerpen ini indah sekali dari segi apapun kata – kata yang tidak terlalu berat dan makna yang tidak begitu susah dicari tapi cerpen ini sangat menyindir untuk semua pihak. Bagian dari cerpen ini yang tidak kalah penting penekanan pada kata “pandai bergembira dengan cara mentertawakan diri mereka sendiri” yang terdapat lebih dari dua kali. Kalimat tersebut menggambarkan bagaimana kehidupan para warga miskin yang merasa tidak mendapat keadilan dinegara ini. Itu dirasa lucu karena mereka sama – sama warga negara ini tetapi kenapa pemerintah lebih peduli kepada negara lain daripada memperdulikan nasib rakyatnya.
Meskipun demikian orang miskin seperti Karyamin masih mempunyai perasaan saling menolong dan kebersamaan yang kuat antar sesamanya. Ini tergambarkan dalam suasana pedesaan yang menjadi latar dicerpen Senyum Karyamin sebagai dunia yang jujur dan masih erat sekali rasa saling menolong.
“Iya, Min, iya. Tetapi kamu lapar, kan?"
Karyamin hanya tersenyum sambil menerima segelas air yang disodorkan oleh Saidah. Ada kehangatan menyapu kerongkongan Karyamin terus ke lambungnya.
"Makan, ya Min? Aku tak tahan melihat orang lapar. Tak usah bayar dulu. Aku sabar menunggu tengkulak datang. Batumu juga belum dibayarnya, kan?"
“Jadi kamu sungguh tak mau makan, Min?” Tanya Saidah melihat Karyamin bangkit.
“Tidak. Kalau kamu tak taham melihat aku lapar, aku pun tak tega melihat daganganmu habis karena utang –utangku dankawan kawan. ”
Dari kutipan di atas dilukiskan rasa saling menolong masih sangat lekat di pedesaan. Tidak seperti di kota yang sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Mayoritas keadaan atau suasana didesa memang seperti itu, para penduduk saling kenal antar warganya tidak seperti warga yang tinggal dikota mereka bahkan tidak kenal tetangga mereka sendiri, suasana kekeluargaan disana sudah hilang, rumah – rumah berpagar tinggi – tinggi dan tertutup.
Dalam cerpen ini juga digambarkan bagaimana kehidupan para rakyat kecil yang berakata – kata kotor, cabul, dan masih mengharapkan sesuatu kekayaan atau uang dengan cara yang cepat dan tentunya yang tidak halal, sangat sesuai dengan keadaan para rakyat miskin di negeri ini. Ini dikarenakan kurangnya pendidikan serta moral agama yang mereka miliki. Misalnya jika kita bermain togel maka perbandingan kita untuk memenangkannya adalah 1:1000. Maka tidak mungkin seharusnya orang – orang yang berpendidikan mau memasang uang mereka untuk togel. Orang – orang seperti Karyamin hanya menunggu saja perubahan dalam hidupnya tanpa mau berusaha mencoba sesuatu hal yang baru yang tentunya dilakukan secara halal dan perhitungan untuk mengubah nasib hidupnya menjadi lebih baik.
“"Bangsat!" teriak Karyamin yang sedetik kemudian sudah kehilangan keseimbangan.”
“Dan tentang nomor buntut yang selalu dan selalu gagal mereka tangkap.”
“"Min!" teriak Sarji. "Kamu diam saja, apakah kamu tidak melihat ikan putih putih sebesar paha?"”
Yang dimaksud nomor buntut dalam penggalan cerpen tersebut adalah nomor togel yang berhasil dimenangkan walaupun uang yang mereka terima paling sedikit jumlahnya.
Ahmad Tohari juga menggambarkan kehidupan desa tempat tinggal Karyamin adalah desa yang masih asri dimana terdapat sebuah kali yang masih asri dan masih dapait diambil batunya. Tidak seperti kali-kali yang ada di kota-kota besar yang kalinya sudah tidak dapat diharapkan lagi karena berwara hitam dan bau. Ini menjelaskan kalau warga desa itu lebih menghargai alam sekitarrnya daripada warga kota yang sudah tertanam sifat individualis meskipun ada sebagian dari mereka yang sadar akan kelestarian lingkungan. Musibah banjir, tanah longsor dan sebagainya yang ada di kota – kota besar seperti Jakarta sebagian adalah akibat dari ulah manusia sendiri. Para warga kota sering membuang sampah kesungai, menebang pohon bakau yang berfungsi sebagai penahan gelombang laut, dan sebagainya. Sehingga keharmonisan dengan alam tidak akan pernah tercapai di kota – kota besar kalau warganya tidak mau mengubah perilaku kehidupan mereka.
“Sebelum naik meninggalkan pelataran sungai, mata Karuyamin menagkap sesuatu yang bergerak pada sebuah ranting yang menggantung di atas air. Oh si paruh udang.punggugnya biru erngkilap, dadanya putih bersih, dan paruhnya merah sanga. Tiba-tiba burung itu menukik menyambar ikan kepala timah sehingga air berkecipak. Dengan mangsa diparuhnya mangsa diparuhnya burung itu melesat melintasi para pencari batu, naik menghindari rumpun gelagah dan lenyap dibalik gerumbul pandan.”
Judul Senyum Karyamin itu sendiri dapat menyuratkan makna yang ingin diangkat dalam cerpen tersebut. Senyum untuk kepahitan hidup yang sering mendera Karyamin (wakil dari orang-orang desa yang miskin, yang tidak mendapat keadilan di negeri ini, dan yang pinggiran) tanpa mengetahui jalan keluar darinya, dari kepahitan itu. Senyum sebagai lambang dari usaha menerima nasib, bahkan menertawainya, karena apa boleh buat mereka tidak bisa berbuat apa – apa kecuali hanya bisa memberikan senyum kepedihan yang mereka hadapi. Tersenyum karena melihat ketidakadilan dalam negeri ini, senyum karena kehidupan mereka yang terasingkan, dan senyum karena mereka tidak bisa berbuat apa – apa untuk mengubah kehidupan mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomen untuk Kemajuan