Selasa, 18 Januari 2011

MENELAAH KARYA SASTRA INDONESIA PERIODE 1980 – an

MENELAAH KARYA SASTRA INDONESIA
PERIODE 1980 – an

I. LATAR BELAKANG
Sastra Indonesia, adalah sebuah istilah yang melingkupi berbagai macam karya sastra di . Istilah "Indonesia" sendiri mempunyai arti yang saling melengkapi terutama dalam cakupan geografi dan sejarah poltik di wilayah tersebut.
Sastra Indonesia sendiri dapat merujuk pada sastra yang dibuat di wilayah . Sering juga secara luas dirujuk kepada sastra yang bahasa akarnya berdasarkan (dimana bahasa Indonesia adalah satu ). Dengan pengertian kedua maka sastra ini dapat juga diartikan sebagai sastra yang dibuat di wilayah (selain Indonesia, terdapat juga beberapa negara berbahasa Melayu).
Karya sastra di Indonesia di bagi kedalam beberapa periode yaitu Pujangga Lama, Sastra “Melayu Lama”, Angkatan Balai Pustaka,Pujangga Baru, Angkatan ‘45, Angkatan 50-an, Angkatan 66-70-an, Dasawarsa 80-an, Angkatan Reformasi
Dalam bab ini, akan dibahas karya sastra pada periode 80-an. Yaitu dengan menelaah karakteristik karya-karya sastra yang muncul pada angkatan tersebut. Mulai dari puisi, drama hingga novel.
Kelahiran periode 80-an bersifat mendobrak keberadaan. Dilahirkan dari konsepsi individual yang mengacu pada satu wawasan kelompok.Setelah melewati ujian bertahun-tahun Sutarji Colzoum Bahri mengatakan bahwa kata bukanlah alat pengantar pengertian, tetapi adalah pengertian itu sendiri.Kata bebas menentukan diri sendiri,bebas dari penjajahan dan bebas dari ide-ide.
Konsep di atas telah menitikberatkan pada kata, tetapi Danarto justru pada pendiriannya.Hal ini sangat menarik dan membawa pada pemikiran yang lain dalam wawasan yang estetik periode 80-an.Dimana pada periode sebelumnya telah terjadi pergeseran wawasan dan pergeseran estetik khususnya pada kata.Dasar tersebut menyebabkan lahirnya periode 80-an menekankan pada pemikiran dan cara penyampaian dalam karya sastra.
Periode 80-an ini merupakan sastra yang dinamik yang bergerak bersama masyarakat Indonesia untuk menuju kehidupannya yang baru dengan wawasan konstitusional.Seperti yang dikatakan Putu Wijaya bahwa kasusastraan itu adalah alat untuk mencurahkan makna agar dapat ditumpahkan pada manusia secara utuh dan makna itu hendaknya disalurkan agar mengalami proses mengembang dan mengempis masuk ke dalam kehidupan serta mengembangkan hal-hal yang sebelumnya belum terpikirkan oleh manusia.
Periode 80-an lahir dari konsepsi improvisasi dalam penggarapan karya sastra menuju hasil dan bobot maksimal serta baru dari konsep yang menentang pada satu kehidupan.Para sastrawan mengikuti perkembangan jaman yang dituntut adanya keberanian dan kreativitas untuk berkarya.Banyak karya sastra yang dijadikan drama drama radio.Pada periode 80-an ini karya sastra film juga berkembang pesat.Perfilman Indonesia banyak ditonton dan diminati oleh masyarakat dan para sutradara pun aktif menciptakan film-film baru.Misal film yang bertemakan percintaan remaja yaitu Gita Cinta SMA ini banyak mempunyai penggemar baik dikalangan muda maupun tua.

II. KARAKTERISTIK
2.1 Genre yang muncul prosa, puisi, drama, sajak, film, kritik, dan esai.
2.2 Pada sajak cenderung mengangkat tema tentang ketuhanan dan mistikisme.
2.3 Puisi yang dihasilkan bercorak spiritual religius.Misal Kubakar Cintaku karya Emba Ainun Najib.
2.4 Novel yang dihasilkan mendapat pengaruh kuat dari budaya barat, dimana tokoh utamanya mempunyai konflik dengan pemikiran timur dan mengalahkan tokoh antagonisnya.
2.5 Bahasa yang digunakan realistis, bahasa yang ada dimasyarakat dan romantis.
2.6 Karya sastra yang dihasilkan mengangkat masalah konsep kehidupan sosial masyarakat yang memuat kritik sosial, politik, dan budaya.
2.7 Para sastrawan menggunakan konsep improvisasi.
2.8 Dalam karya sastra terdapat konsepsi pembebasan kata dari pengertian aslinya.

III. PARA PENGARANG DAN KARYANYA
Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1980
• Ahmadun Yosi Herfanda
o Ladang Hijau (1980)
o Sajak Penari (1990)
o Sebelum Tertawa Dilarang (1997)
o Fragmen-fragmen Kekalahan (1997)
o Sembahyang Rumputan (1997)
• Y.B Mangunwijaya
o Burung-burung Manyar (1981)
• Darman Moenir
o Bako (1983)
o Dendang (1988)
• Budi Darma
o Olenka (1983)
o Rafilus (1988)
• Sindhunata
o Anak Bajang Menggiring Angin (1984)
• Arswendo Atmowiloto
o Canting (1986)
o Airlangga (1985)
o Akar Asap Neraka (1986)
o Anak Ratapan Insan (1985)
o Canting: sebuah roman keluarga (1986)
o Dua Ibu (1981)
o Dukun Tanpa Kemenyan (1986)
o Garem Koki (1986)
o Indonesia From The Air (1986)
o Lukisan Setangkai Mawar: 17 cerita pendek pengarang Aksara (1986)
o Pacar Ketinggalan Kereta (skenario dari novel "Kawinnya Juminten" (1985)
o Pengkhianatan G30S/PKI (1986)
o Saat-saat Kau Berbaring di Dadaku (1980)
o Senopati Pamungkas (1986/2003)
o Serangan Fajar: diangkat dari film yang memenangkan 6 piala Citra pada Festival Film Indonesia (1982)
o Telaah tentang Televisi (1986)
o Tembang Tanah Air (1989)
• Hilman Hariwijaya
o Lupus - 28 novel (1986-2007)
o Lupus Kecil - 13 novel (1989-2003)
o Olga Sepatu Roda (1992)
o Lupus ABG - 11 novel (1995-2005)
• Dorothea Rosa Herliany
o Nyanyian Gaduh (1987)
o Matahari yang Mengalir (1990)
o Kepompong Sunyi (1993)
o Nikah Ilalang (1995)
o Mimpi Gugur Daun Zaitun (1999)
• Gustaf Rizal
o Segi Empat Patah Sisi (1990)
o Segi Tiga Lepas Kaki (1991)
o Ben (1992)
o Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999)
• Remy Sylado
o Ca Bau Kan (1999)
o Kerudung Merah Kirmizi (2002)
• Ahmad Thohari
Ahmad Tohari dilahirkan di Banyumas, Jawa Tengah, 13 Juni 1948. Pernah bekerja sebagai redaktur majalah Keluarga dan Amanah.
Karya-karyanya: Kubah (1980; memenangkan hadiah Yayasan Buku Utama 1980), Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1985), Jantera Bianglala (1986; meraih hadiah Yayasan Buku Utama 1986), Di Kaki Bukit Cibalak (1986; pemenang salah satu hadiah Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta 1979), Senyum Karyamin (1989), Bekisar Merah (1993), Kiai Sadrun Gugat (1995), Lingkar Tanah Lingkar Air (1995), Nyanyian Malam (2000). Novelis yang karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing ini adalah salah seorang alumnus International Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat, dan pada 1985 dianugerahi SEA Write Award.
Para pengarang yang dilahirkan oleh Horison, Kompas dan Suara Pembaruan dekade 1980-an, di antaranya : Leila S. Chudori dengan kumpulan cerpennya Malam Terakhir (Grafitti: 1989); Seno Gumira Adjidarma kumpulan cerpennya Manusia Kamar (Gramedia: 1989); dan Yanusa Nugroho dengan kumpulan cerpennya Bulan Bugil Bulat (Grafitti:1990).

IV. ANALISIS KARAKTERISTIK KARYA SASTRA NOVEL BURUNG – BURUNG MANYAR
Kisah seorang anak manusia yang merasa gagal dalam menjalani hidup karena trauma masa lalu. Terjadi pada zaman modern dengan berlatar belakang kehidupan berbagai masa: masa lalu, masa revolusi, dan masa penjajahan jepang maupun belanda. Cerita ini terjadi di Indonesia (Jakarta dan Bogor). Alur cerita dalam novel Burung-Burung Manyar yaitu menggunakan alur maju, dimana setiap kejadian selalu bergerak maju sesuai dengan perputaran waktu. Tokoh Teto atau Satadewa dipandang sebagai pemuda yang gagal dalam hidupnya. Ia dianggap sebagai sosok yang sikapnya sesuai dengan burung-burung manyar. Ia lebih mengutamakan kepentingan bangsa Belanda dibanding dengan bangsanya sendiri, bahkan ia ikut serta dalam pemberontakan terhadap tentara Republik.
Tokoh Larasati adalah seorang wanita yang berpendidikan tinggi. Ia adalah seorang yang setia terhadap Nusa Bangsanya sendiri. Dalam hidupnya ia pergunakan untuk mengabdi terhadap Tanah Airnya. Bahasa yang digunakan dalam novel Burung-Burung Manyar adalah bahasa gaul atau bukan bahasa baku. Pesan pengarang yaitu ingin memperlihatkan kepada masyarakat pada saat itu bahwa pengabdian terhadap Bangsa sendiri lebih baik dan lebih terhormat dari pada mengabdi kepada Bangsa lain (Belanda). Hal ini di contoh oleh tokoh yang bernama Satadewa yang dalam hidupnya mengabdikan diri kepada Belanda, akhirnya ia harus menanggung malu terhadap Bangsanya sendiri.
Karakteristik karya sastra Drama Naga Bonar yang dibintangi oleh Dedi Mizwar ini cenderung mengarah kearah perjuangan atau bersifat Nasionalisme. Dalam drama ini dikisahkan seorang pencopet yaitu Naga Bonar yang menjadi jendral yang membela daerahnya dari penjajahan Inggris.Drama ini lebih banyak bercerita tentang perjuangan pahlawan nasional dalam membela tanah airnya.Meskipun dalam drama ini banyak terdapat komedi atau cerita lucu tetapi cerita lucu disini mendidik tidak seperti cerita-cerita komedi sekarang ini yang membubuhi ceritanya dengan adegan porno.Drama Naga Bonar ini menggunakan dialek batak karena setting cerita ini berada di Sumatra.Jadi logat serta kebiasaan dan kebudayaan yang banyak ditonjolkan dalam drama ini adalah kebudayaan batak.Yang cara berbicaranya keras berbeda dengan orang jawa.
Karakteristik novel Kubah karya Imam Tohari ini memuat kritik sosial dan politik. Novel ini dibuat untuk mengkritik kebobrokan pemerintahan orde baru penuh dengan makar di mana-mana. Novel ini menceritakan Karman, seorang bekas tahanan politik akibat makar di tahun 1965. Penyebabnya adalah kekecewaan atas penolakan pinangan atas Rifah. Ia terjerumus ke aliran Marxisme yang notabene atheis. Berhari-hari ia dikejar polisi, sampai akhirnya ia tertangkap. Selama dua belas tahun ia terisolasi dari dunia luar. Keluar dari tahanan, ia berusaha merubah paradigma masyarakat Pegaten dengan membuat kubah masjid di sana.
Puisi ”Putih, Putih, Putih” adalah puisi yang bertema religius (keagamaan). Larik Putih, Putih, Putih adalah simbol kesucian yang mengacu pada warna jilbab kaum muslimah.Penyair menyebutkan kata-kata Padang Mashyar / padang penantian di depan pintu gerbang janji keabadian, untuk mengajak kita merenungkan bahwa semua manusia akan berkumpul di Padang Mshyar setelah hari kiamat untuk menjalani pengadilan.Semua tampak Putih, Putih, Putih yang bisa mengacu pada arwah yang berkumpul di padang itu. Di padang Mashyar itu, penyair membayangkan seribu jilbab, bahkan bermilyar-milyar jilbab. Padang itu menjadi lautan putih dan lautan cinta kasih. Penyair membayangkan seolah-olah seribu galaksi / hamparan jiwa suci / bersujud / Putih,
Putih, Putih. Dalam suasana hening penyair membayangkan alam raya / jagat segala jagat / bintang-bintang dan ruan kosong / mendengarkan panggilan itu.
Panggilan yang disebut oleh penyair adalah panggilan dari Tuhan di Padang mashyar dengan suara yang didengar oleh telinga seratus abad. Tuhan bersabda Wahai jiwa bening / wahai muthmainah / kembalilah pada Tuhanmu / Masuklah ke pihak-Ku / Masuklah sorgaku / Wahai telaga /yang bening / hingga tiada. Manusia yang suci dan Mutmainah berhak atas sorga dalam keabadian.

V. PENUTUP
Situasi periode 80-an masih diwarnai dengan aturan-aturan yang ketat dan politik masih berpengaruh. Hal ini dapat kita lihat di Taman Ismail Marzuki yang merupakan pusat kesenian tidak seleluasa seperti tahun-tahun sebelumnya. Karena beberapa pelanggaran pertunjukan kesenian yang terjadi. Majalah Djaja yang terkenal waktu itu berhenti terbit, padahal majalah tersebut memuat masalah-masalah budaya bangsa dan kesenian Indonesia.
Periode 80-an merupakan periode dimana Orde Baru semakin memantapkan posisi dengan slogan pengembangan negara. Ternyata sulit sekali mengidentifikasikan tahun tersebut. Yang terlihat jelas adalah figur kesenian kewalahan memperjuangkan diri menghadapi desakan ekonomi.
Demikian makalah tentang wawasan Nusantara yang kami buat, semoga dapat bermanfaat bagi kita semua.

DAFTAR RUJUKAN
• (online)http://www.sumpahpalapa.com/ (lihat link sastra)
• (online)http://www.geocities.com/tumpal_feui/CIPTA.html
• (online)http://www.cybersastra.net/
• (online)Sastra Romantis dari Jogja
• Rosidi, Ajip.1986.Ikhtiar Sejarah Sastra.Bandung: Angkasa.
• Eneste, Panusuk.1988.Sastra untuk SMA.Jakarta: Djambatan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Berkomen untuk Kemajuan